• Berkeliling Jakarta Bersama Keluarga

    Pekan lalu saya bersama keluarga sempat mengunjungi kota Jakarta dalam rangka menghadiri Muktamar Khilafah 2013. Selain menghadiri Muktamar Khilafah saya juga berniat mengajak anak istri untuk "berkeliling" Jakarta...Read more
  • Wisata Murah dan Mendidik di Jakarta Utara

    Bulan Februari kemaren saya sempat singgah seminggu di Jakarta. Saya menginap disalah satu hotel di daerah Pluit Jakarta Utara. Saat libur akhir pekan saya mencoba mencari ide mengisi kekosongan aktivitas. Iseng-iseng saya browsing mencari tempat-tempat wisata di daerah tersebut...Read more
  • Snapshoot Binatang Kecil di Halaman Rumah

    Mencoba ketajaman kamera digital Nikon Coolpix L310 dengan tembakan jarak dekat. Silahkan dilihat, jangan lupa komentarnya... Read more

Tarakan Kota Minyak Yang Miskin Minyak


Tiba di Bandara Juwata Tarakan
Beberapa bulan yang lalu saya sempat mengunjungi kota Tarakan di ujung Utara pulau Kalimantan. Tarakan dulunya masuk di daerah propinsi Kalimantan Timur sekarang sudah ditetapkan menjadi salah satu daerah dari propinsi baru Kalimantan Utara. Kesan pertama menginjakkan kaki dipulau ini seperti saya memasuki kota yang sebentar lagi bangkrut karena melihat suasana sekitar yang aktivitas masyarakatnya tidak seramai di kota-kota lain saat siang hari. 

Salah Satu Sumur Minyak Milik Pertamina di Tarakan
Ternyata perkiraan saya meleset aktivitas masyarakat sekitar di siang hari ternyata tidak terlalu nampak kecuali bagi para PNS dan anak-anak sekolahan. Kebanyakan masyarakatnya beraktivitas ditempat-tempat tertentu yang jauh dari pandangan mata seperti nelayan, pekerja minyak, pekerja tambak, pedagang di pasar-pasar tertentu, dll dan baru kelihatan di saat malam hari. Seperti kita ketahui, Tarakan adalah salah satu daerah di Indonesia yang terkenal kaya dengan minyak bumi dan menurut informasi kota ini masuk menjadi kota terkaya ke-17 di Indonesia.

Penjual Bensin Eceran (sumber : istimewa)
Hampir tiga pekan saya berada di kota ini, ada hal yang menyita perhatian saya yakni kurangnya akses masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar minyak di depot-depot penjualan resmi. Selain karena sangat kurangnya depot-depot penjualan BBM atau yang sering kita sebut SPBU juga kuota yang disediakan untuk daerah ini jauh dari cukup. Saya tidak memahami mekanisme kuota ini tapi kurang lebih seperti itu pengamatan saya selaku masyarakat awam. Justru yang bertebaran di jalan-jalan adalah penjual BBM non resmi sebutlah mereka pedagang-pedagang kaki lima yang menjual BBM eceran melebihi harga normal. Yah menurut saya bisa di maklumi karena yang namanya pedagang pastinya ingin untung lebih banyak.

Ilustrasi Antrian BBM (sumber : Istimewa)

Bayangkan saat pagi hari antrian pembeli BBM di SPBU itu mengular dengan panjangnya. Menurut saya ini sangat tidak wajar mengingat kota ini salah satu penghasil minyak di Indonesia. Aktivitas warga banyak tersita hanya karena mengantri BBM. Saya kira ini patut ditinjau kembali bagaimana kebijakan-kebijakan pemerintah terkait kondisi ini dan segera menemukan solusinya. Dan yang saya dengar kondisi seperti ini bukan hanya terjadi di kota ini tapi terjadi juga di daerah-daerah lain yang ironisnya penghasil minyak bumi. [m@r10] 

 




[Foto] Berkeliling Jakarta Bersama Keluarga

Dari perjalanan ini banyak hikmah yang bisa dipetik, diantaranya untuk mewujudkan suatu agenda tertentu, "perencanaan" yang matang adalah kunci utama untuk memasuki gerbang keberhasilan suksesnya agenda yang kita inginkan. Berikut ini dokumentasi perjalanan kami sekeluarga mulai dari Bandara, Kebun Binatang Ragunan, Monas, sampai Kota Tua;









 




































---m@10---

Berkeliling Jakarta Bersama Keluarga


Pekan lalu saya bersama keluarga sempat mengunjungi kota Jakarta dalam rangka menghadiri Muktamar Khilafah 2013. Selain menghadiri Muktamar Khilafah saya juga berniat mengajak anak istri untuk "berkeliling" Jakarta. Saya gak mau bilang liburan, karena kalau disebut liburan terkesan yang didatangi adalah tempat-tempat mewah dan mahal. Kebetulan semenjak punya anak, saya dan istri jarang mengagendakan perjalanan ke luar kota. Alhamdulillah niat saya bisa terkabul. 

Sebelum berangkat kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya, di mulai dari persiapan dana sampai ke persoalan teknis. Saya kebetulan sudah terbiasa jalan-jalan ke luar kota, jadi tidak sulit bagi saya untuk merencanakan perjalanan. Hanya yang menjadi tantangan bagi saya sekarang adalah karena kali ini saya berangkat bareng keluarga (Istri dan 2 orang anak) yang masih kecil-kecil. 

Untuk mempermudah menyiapkan perjalanan kami, saya dan istri membagi tugas. Untuk urusan teknis perjalanan diserahkan kepada saya dan untuk urusan perbekalan dan anak-anak diserahkan kepada istri saya. Saya mulai searching tiket murah meriah alias promo jauh-jauh hari sebelumnya. Menggunakan fasilitas internet memang sangatlah memudahkan pekerjaan kita. Alhamdulillah saya dapatkan tiket promo pulang pergi. Setelah itu saya searching penginapan-penginapan murah di sekitaran Stadion Gelora Bung Karno tempat di mana dilangsungkan acara Muktamar Khilafah, alhamdulillah pula saya dapatkan penginapan murah sesuai budget yang lumayan nyaman untuk ditinggali. 

Saya tidak lupa mengubek-ubek google map untuk merencananakan perjalanan setelah di Jakarta nanti. Rencana kami sehari sebelum Muktamar Khilafah kami ingin mengunjungi Kebun Binatang Ragunan, setelah itu esok harinya baru kami hadir di Muktamar Khilafah, esoknya setelah muktamar kami berkunjung ke Monas, Kota Tua dan Pusat Perbelanjaan Mangga Dua. Alhamdulillah setelah direncanakan sedemikian matang, hampir tidak ada kendala setelah tiba di Jakarta sampai kembali lagi ke kampung halaman. 

Dari perjalanan ini banyak hikmah yang bisa dipetik, diantaranya untuk mewujudkan suatu agenda tertentu, "perencanaan" yang matang adalah kunci utama untuk memasuki gerbang keberhasilan suksesnya agenda yang kita inginkan, berikut dokumentasinya [Foto] Berkeliling Jakarta Bersama Keluarga.