Jumat, 02 Januari 2015

Pendapat Ulama Ahlu Sunnah Tentang Wajibnya Khilafah

Standard
Ada yang mengklaim Ahlus Sunnah, tetapi tidak mau memperjuangkan Khilafah. Alasannya, perjuangan menegakkan Khilafah bukan bagian dari paham Ahlus Sunnah. Mereka juga tidak mempersoalkan hukum apa yang diterapkan oleh negara. Yang penting maqashid-nya. Benarkah demikian?

Klaim ini jelas tidak benar. Pasalnya, tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang menyatakan, bahwa menegakkan Khilafah tidak wajib. Berikut ini adalah pendapat ulama Ahlus Sunnah:
Jadi, tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah, termasuk Syiah, Muktazilah, Murji’ah, Khawarij, juga Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali, Zhahiri dan Zaidi, yang mengatakan Khilafah tidak wajib. Dari zaman dulu hingga sekarang, semuanya sepakat, bahwa hukum menegakkan Khilafah dan mengangkat seorang khalifah adalah wajib atas kaum Muslim. 
Pendapat Ulama Ahlu Sunnah Tentang Wajibnya Khilafah

Ada yang berpendapat, bahwa yang wajib adalah mengangkat khalifah, bukan mendirikan Khilafah. Jawabannya, bahwa Khalifah tidak akan pernah ada, kecuali ada Khilafah. Alasannya, Khalifah adalah kepala negara yang mengepalai Khilafah. Menyebut kepala negara yang mengepalai republik dengan sebutan khalifah jelas keliru, karena manath-nya beda. Harus dicatat, setiap hukum mempunyai manath, dan setiap manath mempunyai hukum. Khalifah adalah kepala negara yang mengepalai Khilafah adalah manath. Karena itu kewajiban untuk mengangkat seorang khalifah tidak akan gugur dengan pengangkatan seorang presiden. Khalifah dan presiden adalah dua fakta yang berbeda. 

Jadi, yang tidak memperjuangkan Khilafah sebenarnya bukan pengikut Ahlus Sunnah, tetapi pengikut al-Asham yang Muktazilah dan an-Najadat yang Khawarij. 

Mengenai hukum apa yang diterapkan oleh negara? Pendapat Ahlus Sunnah jelas, yaitu hukum syariah. Alasannya, karena Ahlus Sunnah berpendapat bahwa baik dan buruk harus dikembalikan pada syariah, bukan akal. Qadhi al-Baqillani (w. 403) mengatakan:

 اَلْحَسَنُ مَا حَسَّنَهُ الشَّرْعُ وَالْقَبِيْحُ مَا قَبَّحَهُ الشَّرْعُ 

Baik adalah apa yang dinyatakan baik oleh syariah, sedangkan buruk adalah apa yang dinyatakan buruk oleh syariah (Al-Baqillani, Al-Anshaf fima Yajibu I’tiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi, hlm. 50). 

Alasannya, sebagaimana yang dinyatakan oleh ‘Adhuddin al-Iji (w. 757 H) jelas, bahwa dalam perkara yang terkait dengan pujian dan celaan, serta pahala dan dosa, hanya syariah bisa menentukan, bukan akal (Al-Iji, Al-Mawaqif fi ‘Ilm al-Kalam, hlm. 323-324). Ini berbeda dengan Muktazilah, yang menyatakan, bahwa akal bisa saja memutuskan baik dan buruk. 

Karena itu ketika negara menghasilkan dan menerapkan hukum dengan bersumber pada akal, maka praktik seperti ini bukan merupakan praktik Ahlus Sunnah meski mereka yang melakukan itu mengklaim sebagai pengikut Ahlus Sunnah. 

Tentang maqashid, pandangan ini dinisbatkan kepada Imam asy-Syathibi (w. 790 H). Namun, Asy-Syathibi sendiri menegaskan, bahwa mendirikan Khilafah/Imamah hukumnya fardhu kifayah. Beliau juga tidak pernah menggunakan maqashid sebagai alasan untuk menolak kewajiban mendirikan Khilafah (Asy-Syathibi, Al-Muwafaqat, I/127). WalLahu a’lam. [Dikutip dari tulisan KH. Hafidz Abdurrahman]

Kamis, 18 September 2014

Bagaimana Seharusnya Kita Bergaul Di Tengah-tengah Masyarakat

Standard
Terkadang seseorang tidak menyadari apa yang menjadi tidak-tanduknya di tengah-tengah masyarakat yang pada akhirnya sering memuncul percekcokan yang berakhir pada permusuhan. Terkadang sebenarnya hanya persoalan sepele yang bisa diselesaikan dengan kepada dingin seperti karena ucapan yang tidak ahsan, perkataan yang menyinggung perasaan, dll. Tapi karena mental masyarakat sekarang yang hidup di alam sekulerisme jauh dari nilai-nilai Agama maka hal-hal negatif tersebut sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat. 

Nah, seperti apa seharusnya kita bergaul di tengah-tengah masyarakat, berikut ini ada tulisan dari Abi (nama pena kontributor media umat) baik untuk kita cermati :

ilustrasi
Di tengah-tengah masyarakat setidaknya ada tiga golongan manusia. Pertama: orang yang bergaul dengan baik di masyarakat dan sabar menghadapi keburukan mereka sehingga dia cenderung disukai oleh mereka. Kedua: orang yang buruk pergaulannya di masyarakat sehingga cenderung tidak disukai oleh mereka. Ketiga: orang yang enggan bergaul dengan masyarakat, baik karena niat baik (misal: menghindari ragam keburukan yang muncul di masyarakat), karena tak sabar menghadapi keburukan masyarakat ataupun sekadar karena rasa malas saja.

Terkait dengan itu, Ibn Umar ra menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang Muslim yang bergaul dengan baik di tengah masyarakat serta bersabar atas keburukan mereka adalah lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar dengan keburukan mereka.” (HR at-Tirmidzi).

Dengan redaksi berbeda Rasul SAW juga bersabda, “Seorang Mukmin yang bergaul dengan baik di tengah masyarakat dan bersabar atas keburukan mereka adalah lebih besar pahalanya daripada seorang Mukmin yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar atas keburukan mereka.” (HR Ibn Majah).

Tentang pentingnya bergaul secara baik dengan masyarakat, Sayyid al-Musayyab ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puncak akal setelah keimanan kepada Allah SWT adalah bergaul dengan baik di masyarakat. Seseorang tidak akan pernah merugi selama dia sering bermusyawarah dengan orang lain. Pelaku kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akhirat.” (HR Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).

Bahkan bergaul baik dengan masyarakat dipandang sebagai sedekah. Jabir bin Abdillah ra menuturkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Bergaul baik dengan masyarakat adalah sedekah.” (HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).

Dalam sebuah hadits marfu’ dari Zaid bin Rafi’ dituturkan bahwa Rasul SAW pun bersabda, “Aku diperintahkan untuk bergaul secara baik dengan masyarakat sebagaimana aku diperintahkan shalat fardhu.” (HR Ibn Abi Syaibah).

Nazzal bin Sabrah pun menuturkan hadits marfu’ bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga perkara yang jika ketiganya ada pada diri seseorang, ia berada dalam kedamaian: ilmu, yang dengan ilmu itu kebodohan orang bodoh bisa dihilangkan; akal, yang dengan akal itu orang bergaul secara baik dengan masyarakat; sikap wara’ yang bisa mencegah seseorang dari bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).

Salah satu pergaulan yang baik di tengah masyarakat adalah dengan selalu menunjukkan sikap santun dan lembut. Siapakah orang yang santun atau lembut? Kata Amr bin al-‘Ash ra, “Orang yang santun (lembut) bukanlah orang yang santun (lembut) terhadap orang yang santun (lembut) kepada dirinya. Akan tetapi, orang yang santun (lembut) adalah orang yang santun (lembut) baik terhadap orang yang santun (lembut) kepada dirinya ataupun yang bersikap kasar terhadap dirinya.” (HR Ibn Abi Syaibah).

Terkait sikap santun dan lembut ini Rasulullah SAW bersabda, “Manakala Allah SWT mengumpulkan seluruh makhluk pada Hari Kiamat, seseorang menyeru, ‘Dimana pelaku keutamaan?’ Rasul bersabda, “Tiba-tiba sekelompok orang berdiri. Mereka lalu berjalan dan bergegas menuju surga. Malaikat lalu menyambut mereka. Mereka kemudian ditanya, ‘Siapa kalian ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah pelaku keutamaan itu.’ Mereka ditanya lagi, ‘Apa keutamaan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Jika kami dizalimi, kami berusaha bersabar. Jika kami diperlakukan buruk, kami memohonkan ampunan bagi pelaku keburukan tersebut. Jika kami dikasari, kami berusaha tetap bersikap lembut terhadap orang yang mengasari kami.’ Selanjutnya dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian ke dalam surga sebagai balasan terbaik bagi para pelaku kebaikan.’” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).

Sebaliknya, Islam mencela sikap buruk atau kasar hingga membuat orang-orang tidak suka. Rasul SAW bersabda kepada Aisyah ra, “Wahai Aisyah, sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat kelak adalah orang yang cenderung dijauhi atau ditinggalkan oleh manusia karena mereka khawatir terhadap keburukannya.”(HR Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).

Dalam redaksi lain Rasul SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia terburuk pada Hari Kiamat kelak adalah orang yang (di dunia) paling dikhawatirkan lisannya atau keburukannya oleh manusia.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).

Nabi SAW juga bersabda kepada Aisyah ra, “Manusia terburuk adalah siapa saja yang menjadikan orang takut berkumpul dengan dia karena keburukannya.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).

Karena itulah Salim bin Abdillah berkata, “Di antara kebaikan adalah takut melakukan keburukan (terhadap orang lain).”(HR Ibn Abi ad-Dunya’). Wa ma tawfiqi illa bilLah. []

Selasa, 02 September 2014

Ini Nomor Telepon JNE Makassar

Standard
Tentu bagi anda yang senang kirim mengirim barang, sudah tidak asing lagi dengan nama ini JNE. Hanya saja akhir-akhir ini rasanya pelayanannya kurang memuaskan lagi. Contoh kasus, sudah beberapa kali saya mengirim dan dikirimi barang ternyata waktunya tidak sesuai target sesuai dengan pilihan paket pengirimannya.

Saya terkadang menggunakan paket pengiriman 'YES (Yakin Esok Sampai)' tapi ternyata barang sampai sama saja ketika kita menggunakan paket 'Reguler' ataupun paket 'Ekonomis'.

Walau pada website resminya JNE menerangkan sebagai bentuk tanggung jawab atas kualitas layanan ini (YES), JNE memberikan jaminan uang kembali (biaya kirim) apabila kiriman tidak terantar pada keesokan harinya. Tapi saya tidak sampai hati untuk menuntut uang pengiriman kembali, karena menurut saya kerugian akibat telatnya pengiriman tidak sebanding dengan pengembalian uang biaya kiriman tersebut. 


Belum lagi kalau sudah benar-benar telat maka solusi bagi saya pribadi langsung menjemput barang kiriman saya dikantor cabangnya. Pelayanan teleponnyapun kurang memadai, nomor telepon diwebsite resmi kadang tidak aktif saat diangkatpun jawaban operator hanya seadanya. Mudah-mudahan ini bisa menjadi perhatian bagi pihak manajemen JNE untuk memperbaiki kualitas jasa pengirimannya. 

Berikut ini nomor telepon JNE Makassar yang lagi aktif 0411-883889 dan 0411-457402. [AF]
 

Minggu, 31 Agustus 2014

Mengunjungi Kota Surabaya

Standard
Sekitar bulan oktober 2012 lalu saya mendapat tugas kerja ke Surabaya. Saya berangkat dari Makassar dengan menggunakan maskapai penerbangan Lion Air. Walau masih merasa kurang nyaman dengan maskapai ini karena pernah punya pengalaman yang tidak mengenakkan, saya berusaha untuk bisa menerima kenyataan ini. Bahwa memang maskapai ini adalah salah satu maskapai yang lagi naik daun karena mempunyai armada penerbangan yang lebih banyak dari maskapai lain. Disamping itu memang saya tidak bisa menolak karena persoalan transportasi sepenuhnya diurus oleh kantor dimana saya bekerja. 

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam akhirnya tiba juga di Bandara Juanda Surabaya. Ini kali pertama saya ke Surabaya. Tujuan saya kali ini adalah Surabaya Barat tepatnya di Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo. Saya menggunakan armada Taxi Bandara untuk bisa sampai ke tujuan, ongkosnya kurang lebih Rp.135.000 ditambah ongkos masuk TOLL Rp.10.000,-. Siapa tahu teman-teman ada yang berniat jalan-jalan ke daerah ini, estimasi bianya sudah bisa diperhitungkan.

Karena perkerjaan saya membutuhkan waktu agak lama saya mencoba mencari penginapan untuk estimasi satu bulan. Setelah sekian lama mencari akhirnya dapat juga. Namanya Kost Executive tepatnya di Jalan Manukan Tengah Surabaya Barat. Penginapan ini nyaman dan bersih sangat recommended bagi teman-teman yang mencari penginapan disekitar daerah ini. Fasilitasnya lumayan lengkap ada AC, TV, Hot and Cold Water, lemari, meja kerja, parkir yang luas dan tentunya kasurnya yang empuk. Ongkosnya kurang lebih 2 Juta rupiah untuk satu bulan.

Icon Surabaya
Memanfaatkan sela-sela waktu jeda kerja saya berkeliling menikmati kota ini. Saya menyempatkan diri berkunjung di Jembatan Suramadu, Pusat Grosir Surabaya yang berdekatan dengan Pasar Turi, KBS, dll. [TA]




Minggu, 17 November 2013

Tarakan Kota Minyak Yang Miskin Minyak

Standard
Beberapa bulan yang lalu saya sempat mengunjungi kota Tarakan di ujung Utara pulau Kalimantan. Tarakan dulunya masuk di daerah propinsi Kalimantan Timur sekarang sudah ditetapkan menjadi salah satu daerah dari propinsi baru Kalimantan Utara. Kesan pertama menginjakkan kaki dipulau ini seperti saya memasuki kota yang sebentar lagi bangkrut karena melihat suasana sekitar yang aktivitas masyarakatnya tidak seramai di kota-kota lain saat siang hari.

Ternyata perkiraan saya meleset aktivitas masyarakat sekitar di siang hari ternyata tidak terlalu nampak kecuali bagi para PNS dan anak-anak sekolahan. Kebanyakan masyarakatnya beraktivitas ditempat-tempat tertentu yang jauh dari pandangan mata seperti nelayan, pekerja minyak, pekerja tambak, pedagang di pasar-pasar tertentu, dll dan baru kelihatan di saat malam hari. Seperti kita ketahui, Tarakan adalah salah satu daerah di Indonesia yang terkenal kaya dengan minyak bumi dan menurut informasi kota ini masuk menjadi kota terkaya ke-17 di Indonesia.

Tiba di Bandara Juwata Tarakan
Hampir tiga pekan saya berada di kota ini, ada hal yang menyita perhatian saya yakni kurangnya akses masyarakat untuk mendapatkan bahan bakar minyak di depot-depot penjualan resmi. Selain karena sangat kurangnya depot-depot penjualan BBM atau yang sering kita sebut SPBU juga kuota yang disediakan untuk daerah ini jauh dari cukup. Saya tidak memahami mekanisme kuota ini tapi kurang lebih seperti itu pengamatan saya selaku masyarakat awam. Justru yang bertebaran di jalan-jalan adalah penjual BBM non resmi sebutlah mereka pedagang-pedagang kaki lima yang menjual BBM eceran melebihi harga normal. Yah menurut saya bisa di maklumi karena yang namanya pedagang pastinya ingin untung lebih banyak.

Salah Satu Sumur Minyak Milik Pertamina di Tarakan
Bayangkan saat pagi hari antrian pembeli BBM di SPBU itu mengular dengan panjangnya. Menurut saya ini sangat tidak wajar mengingat kota ini salah satu penghasil minyak di Indonesia. Aktivitas warga banyak tersita hanya karena mengantri BBM. Saya kira ini patut ditinjau kembali bagaimana kebijakan-kebijakan pemerintah terkait kondisi ini dan segera menemukan solusinya. Dan yang saya dengar kondisi seperti ini bukan hanya terjadi di kota ini tapi terjadi juga di daerah-daerah lain yang ironisnya penghasil minyak bumi. [af] 

Minggu, 09 Juni 2013

Berkeliling Jakarta Bersama Keluarga

Standard
Pekan lalu saya bersama keluarga sempat mengunjungi kota Jakarta dalam rangka menghadiri Muktamar Khilafah 2013. Selain menghadiri Muktamar Khilafah saya juga berniat mengajak anak istri untuk "berkeliling" Jakarta. Saya gak mau bilang liburan, karena kalau disebut liburan terkesan yang didatangi adalah tempat-tempat mewah dan mahal. Kebetulan semenjak punya anak, saya dan istri jarang mengagendakan perjalanan ke luar kota. Alhamdulillah niat saya bisa terkabul.

Sebelum berangkat kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya, dimulai dari persiapan dana sampai ke persoalan teknis. Saya kebetulan sudah terbiasa jalan-jalan ke luar kota, jadi tidak sulit bagi saya untuk merencanakan perjalanan. Hanya yang menjadi tantangan bagi saya sekarang adalah karena kali ini saya berangkat bareng keluarga (Istri dan 2 orang anak) yang masih kecil-kecil. 

Untuk mempermudah menyiapkan perjalanan kami, saya dan istri membagi tugas. Untuk urusan teknis perjalanan diserahkan kepada saya dan untuk urusan perbekalan dan anak-anak diserahkan kepada istri saya. Saya mulai searching tiket murah meriah alias promo jauh-jauh hari sebelumnya. Menggunakan fasilitas internet memang sangatlah memudahkan pekerjaan kita. Alhamdulillah saya dapatkan tiket promo pulang pergi. Setelah itu saya searching penginapan-penginapan murah di sekitaran Stadion Gelora Bung Karno tempat di mana dilangsungkan acara Muktamar Khilafah, alhamdulillah pula saya dapatkan penginapan murah sesuai budget yang lumayan nyaman untuk ditinggali. 

Saya tidak lupa mengubek-ubek google map untuk merencananakan perjalanan setelah di Jakarta nanti. Rencana kami sehari sebelum Muktamar Khilafah kami ingin mengunjungi Kebun Binatang Ragunan, setelah itu esok harinya baru kami hadir di Muktamar Khilafah, esoknya setelah muktamar kami berkunjung ke Monas, Kota Tua dan Pusat Perbelanjaan Mangga Dua. Alhamdulillah setelah direncanakan sedemikian matang, hampir tidak ada kendala setelah tiba di Jakarta sampai kembali lagi ke kampung halaman. 

Dari perjalanan ini banyak hikmah yang bisa dipetik, diantaranya untuk mewujudkan suatu agenda tertentu, "perencanaan" yang matang adalah kunci utama untuk memasuki gerbang keberhasilan suksesnya agenda yang kita inginkan, berikut dokumentasinya :


Berikut ini dokumentasi perjalanan kami sekeluarga mulai dari Bandara, Kebun Binatang Ragunan, Monas, sampai Kota Tua;










































vv---m@10---vv

Jumat, 10 Mei 2013

Inilah Keutamaan Ahli Ilmu

Standard
Berikut ada tulisan yang menurut saya sangat bagus, judul tulisan aslinya adalah keutamaan ahli Ilmu. Sejak dulu saya sudah banyak mendengar orang berkelakar bahwa Ilmu lebih utama dari harta. Olehnya itu kenapa banyak orang yang paham akan hakikat ilmu itu rela mengorbankan harta demi mendapatkan Ilmu, rela bersusah-susah hanya demi mendapatkan Ilmu. Ternyata orang yang berilmu itu memiliki keutamaan-keutamaan dan di dalam ajaran Islam sudah menjadi anjuran setiap muslim untuk menuntut Ilmu, berikut tulisan lengkapnya terkait keutamaan ahli Ilmu yang ditulis oleh Abi (nama pena) kontributor dari media umat.  


Seorang ulama besar di kalangan tabi’in sekaligus muhaddits bernama Imam Ayub Kaysan as-Sakhtiyani al-Bashri (w 131 H), sebagaimana pernah dituturkan oleh muridnya, Hammad bin Zaid mengisahkan, suatu saat pernah ditanya, “Ilmu hari ini lebih banyak atau lebih sedikit?” Ia menjawab, “Hari ini obrolan lebih banyak! Adapun sebelum sebelum hari ini, ilmu lebih banyak.” (Al-Hafidz al-Fasawi, Al-Ma’rifah wa at-Tarikh, II/232).


Jika pada masa tabi’in saja Imam Ayub menilai bahwa obrolan lebih banyak daripada ilmu, bagaimana dengan zaman ini? Jawabannya sudah sama-sama diketahui hanya dengan melihat realitas keseharian saat ini. Hari ini, misalnya, majelis-majelis ilmu selalu lebih sedikit daripada ‘majelis-majelis’ hiburan dan permainan, warung-warung kopi sekaligus tempat-tempat ngerumpi, tempat-tempat nongkrong di pinggir-pinggir jalan atau di mal-mal, dll. Orang-orang yang hadir di majelis-majelis ilmu pun selalu lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang hadir di tempat-tempat keramaian lainnya, seperti di panggung-panggung hiburan yang menampilkan para musisi dan artis idola. Wajarlah jika pada hari ini jumlah umat Islam yang awam atau bodoh terhadap agamanya selalu jauh lebih banyak daripada orang-orang alimnya. Padahal kebanyakan mereka tahu bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim, sama seperti kewajiban individual lainnya seperti shalat, shaum Ramadhan, dll. Nabi Muhammad SAW  bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim.” (HR  Ibnu  Majah dari Anas ra).

Bahkan dalam sejarah, tidak ditemukan suatu agama yang mendorong pemeluknya untuk mencari ilmu—bahkan sejak dini—kecuali agama Islam. Karena itulah, dalam lintasan sejarah ribuan orang telah menjadi ulama justru saat anak-anak. Pada masa Rasulullah SAW masih hidup, misalnya, Ibnu Abbas ra telah hafal Alquran pada usia 10 tahun. Imam Syafi’i telah hafal Alquran pada usia 7 tahun dan telah mampu berfatwa dalam usia 15 tahun. Imam al-Bukhari mulai menghafal hadits ketika duduk di bangku madrasah dan mengarang kitab At-Tarikh pada usia 18  tahun.
Ilustrasi (Credit Picture : Nikos Niotis)
Islam pun mengajari kita bagaimana seharusnya kita memilih guru yang baik. Sebab, guru adalah cermin yang dilihat oleh anak sehingga akan membekas di dalam jiwa dan pikiran mereka. Guru adalah sumber pengambilan ilmu. Para sahabat dan salafus shalih sangat serius di dalam memilih guru yang baik bagi anak-anak mereka. Imam Mawardi menegaskan urgensi memilih  guru yang baik dengan mengatakan, “Memang wajib bersungguh-sungguh di dalam memilihkan guru dan pendidik bagi anak, seperti kesungguhan di dalam memilihkan ibu dan ibu susuan baginya, bahkan lebih dari itu. Seorang anak akan mengambil akhlak, gerak-gerik, adab dan kebiasaan dari gurunya melebihi yang diambil dari orang tuanya sendiri…” (Nasihah al-Muluk, h. 172).

Karena itulah Islam pun mengajari kita untuk memuliakan para ulama. Abu Umamah ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada tiga orang dimana tidak ada yang meremehkan mereka kecuali orang itu munafik. Mereka adalah orang tua, ulama dan pemimpin yang adil.” (HR ath-Thabrani).

Hal ini wajar karena ulama adalah pewaris para nabi. Tentang keutamaan para ulama, Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat (TQS al-Mujadalah [58]: 11).

Selain itu, Imam al-Ghazali menukil perkataan Yahya bin Mu’adz mengenai keutamaan ulama, “Para ulama  itu lebih sayang kepada umat Muhammad saw. dari pada ayah dan ibu mereka sendiri.” Ditanyakalah kepadanya, “Mengapa bisa demikian?” Ia  menjawab, “Karena para  ayah dan ibu itu hanya menjaga anak-anak mereka dari neraka dunia, sedangkan para ulama itu menjaga mereka dari neraka akhirat.” (Ihya’ ‘Ulum ad-Din, I/11).

Karena itu memuliakan ulama, menghormati dan merendahkan diri kepada  mereka, bersikap santun dan lembut di dalam bergaul dengan mereka, semua itu merupakan adab terhadap  ulama yang harus dibiasakan sejak kanak-kanak.

Abu Umamah ra juga menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Luqman berkata kepada putranya, ‘Anakku, engkau harus duduk dekat pada ulama. Dengarkanlah perkataan para ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang  mati dengan hujan deras.”  (HR Ath-Thabrani).

Selain merupakan kewajiban, yang pasti menuntut ilmu akan memudahkan jalan bagi pencarinya untuk menuju surga, sebagaimana sabda Nabi SAW. “Siapa saja yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan bagi dirinya menuju surga.” (HR Muslim dan at-Tirmidzi).

Tentu saja, jika ilmu itu benar-benar diamalkan dalam kehidupan. Sebab, sebagaimana kata Imam al-Ghazali pula, “Meski engkau telah mengkaji ilmu seratus tahun dan telah memiliki seribu buku, engkau belumlah siap untuk memperoleh rahmat Allah, kecuali dengan mengamalkannya. Ini sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): Sesungguhnya tidaklah bermanfaat bagi manusia kecuali apa yang telah ia usahakan (TQS an-Najm: 49)”. (Ayuhal Walad, hlm. 21). Wallahu a’lam [af]

Jumat, 11 Januari 2013

Menentukan Arah Kiblat Dengan Qibla Locator

Standard
Alhamdulillah dengan mengakses situs Qibla Locator di www.qiblalocator.com saya bisa menentukan posisi arah kiblat dengan tepat walau berada di tempat-tempat yang sulit untuk menemukan arah kiblat. Ini satu masalah yang sering saya hadapi ketika berada di luar kota. Apalagi saat berada di kota-kota yang minus penduduk Muslimnya seperti di Manado, Bali, Papua dan NTT. Pengalaman  saya saat berada di Manado, sempat binggung saat hendak melaksanakan sholat karena arah kiblat tidak jelas. Biasanya kalau di hotel-hotel tertentu sudah ada petunjuk kiblat di dalam ruang kamar. Tapi kebetulan di kamar hotel saya saat itu tidak ada petunjuk kiblat dan kebetulan saat itu saya check in pada waktu menjelang maghrib, jadi tidak sempat mengamati arah matahari terbenam. Ditambah lagi handphone saya yang biasa menjadi petunjuk untuk menentukan arah kiblat saat itu dalam keadaan lowbatt.

Saya kemudian terpikir untuk mencari arah kiblat itu dengan bertanya kepada om gugel. Saya langsung menyalakan labtop konek ke modem yang kebetulan saat itu terisi pulsa ha..ha..ha. Setelah sekian menit mencari dengan kata kunci yang berbeda-beda akhirnya om gugel mengarahkan ke situs ini >>>www.qiblalocator.com<<< dan alhamdulillah sekali lagi dari situs ini saya bisa menentukan arah kiblat dengan tepat. Situs ini menghadirkan gambaran arah kiblat yang jelas sesuai posisi di mana kita berada. Tentunya dengan memasukkan nama tempat (lokasi, kota, jalan) pada menu pencarian. Setelah menemukan tempat kita berada secara otomatis garis merah sebagai menujuk arah kiblat akan menunjukkan arah kiblat lengkap dengan data-data arah tempat kita berada. Asyiknya lagi ada beberapa mode peta gambar lokasi disitus ini sehingga memudahkan kita menemukan posisi di mana kita berada seperti mode Map, Satellite, Hybrid, Terrain dan Earth. Berikut penggambaran lokasinya, saat saya berada di Manado :

Jadi, tidak ada lagi alasan untuk tidak melaksanakan kewajiban Sholat di manapun kita berada karena teknologi sudah sangat membantu kita. Semoga bermanfaat.

Rabu, 05 Desember 2012

10 Tips Rencana Bisnis Dari Komunitas Tangan Di Atas

Standard
Bicara binis hampir tiada habis dibicarakan. Mulai dari yang muda sampai yang tua, pemula sampai yang sudah expert kata 'bisnis' ini masih menyihir siapapun untuk diobrolkan. Memang enak kalau sudah punya bisnis yang sudah berjalan, apalagi kalau bisnisnya menguntungkan bahkan bisa sampai memberikan pasif income. Namun untuk memiliki bisnis seperti itu tentunya tidak langsung ada, tidak langsung terjadi begitu saja terkecuali bagi orang yang mewarisi kerjaan bisnis dari pendahulunya. Namun bagi pemula atau yang baru mau mencoba tentunya harus berusaha dari nol alias dari awal. 

Nah, malam ini Komunitas Tangan Di Atas (TDA) melalui akun twitternya sharing tentang Tips Rencana Bisnis. Terdapat ada 10 Tips Rencana Bisnis yang bisa menjadi inspirasi bagi pebisnis pemula. Berikut ini tips-tipsnya :

Credit Picture : apktnt
  1. Tuliskan apa yang dapat dijadikan peluang usaha.
  2. Ambillah 3 peluang usaha yang paling Anda sukai, tentunya yang paling dekat dengan kemampuan skill Anda. 
  3. Tentukan peluang bisnis yang paling mungkin Anda kerjakan dalam waktu dekat. 
  4.  Bila Anda sudah menemukan peluang bisnis tersebut maka anda bisa memulainya segera mungkin. 
  5. Susunlah strategi pemasarannya, sebab tanpa hal itu bisnis tidak akan mudah berkembang. 
  6. Catat semua cash flow dalam usaha anda, kapan bisa balik modal dan kapan dapat meraup keuntungan. 
  7. Tulislah dalam suatu rencana, berapa uang yang harus Anda simpan untuk memajukan bisnis. 
  8. Susunlah rencana yang kreatif dan inovatif dalam memajukan bisnis anda. 
  9. Buatlah penelitian kecil tentang kelemahan dan kelebihan kompetitor. 
  10. Catatlah segala kegagalan yang pernah terjadi. Ambil dan jadikan suatu pelajaran. 
Semoga bermanfaat (AF)
 

Selasa, 30 Oktober 2012

Terus Bergerak

Standard
Tulisan ini saya dapatkan dari buku Pembelajaran Teddy P Rachmat. Mungkin anda sudah pernah membaca sebelumnya, tapi cerita ini sangat bermakna bagi siapa saja, khususnya saya untuk terus bergerak, melakukan hal-hal baru, menaklukkan tantangan baru. Sebab, kalau tidak, nasibnya bisa seperti ikan salmon dalam cerita ini.


Nelayan penangkap ikan salmon di Jepang bingung sekali karena ikan tangkapannya banyak yang mati sebelum mencapai daratan. Mereka kemudian berunding mencari cara bagaimana mengatasinya.

Ide pertama, menaruh ikan salmon ke dalam bak air. Ide ini gagal total, karena tetap banyak yang mati karena bak air itu panas tersengat matahari.

Ide kedua, memasukkan bongkahan es ke dalam bak air untuk mengurangi suhu panas. Tetap saja ikan salmon banyak yang mati.

Cara lain mereka coba, tetap tak ada yang berhasil. Suatu ketika, seorang nelayan iseng memasukkan anak ikan hiu kecil ke dalam bak air. Aneh bin ajaib, ikan-ikan salmon itu malah tetap hidup sampai di darat.  Kenapa?

Sebab, karena ada anak ikan hiu di dalam bak air, ikan-ikan salmon itu terpaksa bergerak terus melarikan diri dari kejaran ikan hiu itu.

Pergerakan itu membuat salmon-salmon mengeluarkan kekuatan terbaiknya untuk tetap hidup. Dalam hidup atau aktivitas kita, apakah kita terus bergerak atau malah pasif menunggu nasib atau terjebak menikmati zona nyaman?

Ciptakan hiu-hiu kecil untuk membuat hidup dan aktivitas kita terus bergerak, terus bertahan dan bertumbuh. (TDA)

Senin, 22 Oktober 2012

3 Tahun Bersamamu

Standard
Tiada terasa waktu berjalan begitu cepat, 18 Oktober 2012 tepat 3 tahun kita bersama. Biduk kita kian jauh berlayar di tengah samudera kehidupan. Suka dan duka kita lewati bersama walau kadang ada silap terselip. Melalui momen ini ku ucap maaf atas segala kata dan tingkah yang kurang berkenan, tetap teguh di sisiku menemaniku melewati petualangan panjang perjuangan ini. Semoga hari depan kian cerah, terus berlayar hingga jauh, hingga akhir, hingga bahagia, hingga ke surga-Nya. Ku mohon doa pada yang Kuasa agar segala kebaikan terkabulkan. Salam cinta dan sayang selalu....[Surabaya, 22/10/12; 19.30 WIB] 


Kutitip lyric lagu dari Suara Persaudaraan "Bahtera Cinta" special untukmu...:-)
Bersemi Dua Hati Dalam Naungan Ilahi, Bersatu Dalam Janji Meniti Kehidupan Ini, Menjadi Raja Sehari, Di dampingi Ratu Suci, Bahagia Tak Terperi, Mendapat Karunia Ilahi, Hiduppun kan Segera Berlayar, Menerjang Ombak dan Badai, Membelah Dalamnya Lautan, Menembus Bayang-bayang, Waspada Aral Melintang, Karang-Karang Tajam, Menjadi Misteri Mentiti Kehidupan, Semoga Alloh Memberkahi, Selalu Dalam Kebaikan, Dan Menjadikan Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah, Oh Tuhan Tegarkanlah, Dalam Kasih dan Cinta-Mu Bahagia selamanya Hingga di dalam syurga-Mu...[AF]

Selasa, 18 September 2012

Meluruskan Pemahaman Tentang Rezeki

Standard
Menyambung postingan saya di 7 tips keluar dari kesulitan ala Rasulullah Saw., terkait rezeki, saya akan menuliskannya sesuai dengan pemahaman saya saat ini. Karena setelah sekian lama terjebak dengan pemahaman keliru tentang rezeki akhirnya saya mendapatkan penjelasan mendalam dan bisa memuaskan akal saya. Ada beberapa rujukan buku yang bisa membahasnya lebih dalam terkait persoalan ini. Seperti buku karya Muhammad Ismail ; Bunga Rampai Pemikiran Islam atau dalam versi bahasa arabnya berjudul Fikrul Islam dan buku karya Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani ; Kepribadian Islam Jilid I atau dalam versi arabnya berjudul Syakhsyiah Islam I.

Jadi penjelasan singkatnya seperti ini. Rezeki itu tidak identik dengan pemilikan, sebab rezeki adalah pemberian. Rezeki dapat berupa rezeki halal ataupun haram; tetapi kedua duanya dinamakan rezeki juga. Semuanya adalah harta yang diberikan Allah SWT kepada manusia tatkala mereka memeras tenaganya dalam mengusahakan suatu pekerjaan yang biasanya dapat mendatangkan rezeki ataupun sebaliknya. Banyak orang yang menyangka bahwa mereka sendirilah yang memberikan rezeki untuk dirinya. Padahal itu adalah persangkaan yang keliru dan harus diluruskan.
ilustrasi

Sebagai contoh seorang pegawai yang menerima gaji tertentu karena telah menguras tenaganya, dia menyangka bahwa dialah yang mendatangkan rezeki kepada dirinya sendiri. Begitupula ketika ia mendapatkan kenaikan gaji karena bekerja lebih keras atau karena memang berusaha memperoleh kenaikan gaji, dia pun menyangka bahwa dirinyalah yang mendatangkan rezeki itu (berupa kenaikan gaji). Sehingga kebanyakan orang beranggapan bahwa karena hasil usahanyalah yang menyebabkan datangnya rezeki.

Padahal, bagi seorang muslim harus meyakini dengan pasti bahwasanya rezeki itu berasal dari sisi Allah SWT, bukan berasal dari manusia. Dan bahwasanya setiap keadaan (usaha) yang biasanya mendatangkan rezeki tidak lain adalah kondisi tertentu yang berpeluang menghasilkan rezeki, bukan penyebab datangnya rezki. Karena pada kenyataannya kadang usaha sudah dimaksimalkan akan tetapi rezeki tidak diperoleh jua. Olehnya itu rezeki semata-mata datangnya dari Allah SWT. Bukan yang lain, mari kita tengok beberapa ayat Al-qur’an yang menjelaskan perihal rezki ; (QS Al Maidah: 88), (QS Ar Ruum: 40), (QS Yaasiin: 47), (QS Ali Imran: 37), (QS Al Ankabuut: 60), (QS Al An'aam: 151) dan masih banyak ayat-ayat serupa yang menerangkan perihal masalah rezeki ini.


Meskipun demikian Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk berupaya melakukan berbagai macam pekerjaan (usaha), setelah diberikan oleh Allah SWT pada diri mereka kesanggupan untuk memilih dan melaksanakan cara/usaha yang biasanya mendatangkan rezeki. Merekalah yang harus mengusahakan segala bentuk cara/usaha yang dapat menghasilkan rezeki dengan ikhtiar mereka, akan tetapi harus dipahami bukan mereka yang mendatangkan rezeki, sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat-ayat diatas. Bahkan hanya Allahlah yang memberikan rezeki kepada mereka dalam berbagai keadaan/cara, tanpa memandang apakah rezeki itu halal ataukah haram, dan tanpa melihat apakah cara/usaha itu termasuk suatu hal yang dibolehkan, diharamkan atau diwajibkan oleh Allah. Begitu juga tanpa memandang apakah dengan usaha/cara itu dapat menghasilkan rezeki atau tidak.


Walaupun begitu Islam telah menjelaskan tata cara bagi seorang muslim mengusahakan usaha/cara yang dapat mendatangkan rezeki yang tentunya diperbolehkan alias halal dan berkah di sisi Allah SWT. Dalam hal ini Islam menjelaskan sebab-sebab pemilikan, bukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan rezeki dan membatasi pemilikan dengan sebab-sebab yang telah ditentukan untuk memperoleh rezeki. Yakni rezeki yang halal dan diberkahi Allah SWT. (AF)